Ade Armando dikenai sanksi adat, karena dianggap telah mencoreng masyaakat Minangkabau.

PALANDA.ID – Dosen Ade Armando dilaporkan ke Polda Sumatera Barat (Sumbar) terkait komentarnya di media sosial (medsos) soal penolakan aplikasi Kitab Suci Injil Minangkabau di ponsel. Selain urusan pidana, Mahkamah Adat Alam Minangkabau (MAAM) juga akan memproses Ade secara adat.

Imam Majelis MAAM, Tuanku Irwansyah, mengatakan pihaknya akan memproses dan menelusuri silsilah adat Ade Armando.

“Kita akan periksa dan proses di mana sosok jeraminya, di mana kampungnya, siapa ninik mamaknya dan kita akan proses dengan hukum adat,” kata Tuanku Irwansyah didampingi Ketua Umum Badan Koordinasi Kerapatan Adat Nagari (Bakorkan) Sumbar Yuzirwan Rasyid Dt Rajo Tongga usai melapor ke Polda Sumbar, Selasa (9/6/2020).

Menurut Tuanku Irwansyah, adat memiliki hukum sendiri, yakni hukum adat salingka nagari. Jika terbukti Ade Armando memang orang Minang, dia mengatakan hukum adat akan diberlakukan kepada Ade.

“Kalau terbukti memang orang Minang, kita akan hubungi ninik mamaknya untuk memberi kabar akan dijatuhi hukuman terhadap yang bersangkutan. Hukum terberatnya adalah dibuang sepanjang adat,” jelas Tuanku.

Dengan hukum tersebut, Ade Armando tidak lagi bisa lagi memakai label atau mengaku sebagai orang Minang. Ia juga tidak berhak atas harta pusaka.

“Kalau jadi orang Sumatera Barat boleh, tapi bukan jadi orang Minang. Hilang hak sako pusakonya dan apabila itu tidak diindahkan, maka satu keturunan sampai kapan pun juga tidak lagi berhak,” tegasnya.

Belum diketahui secara pasti apakah Ade Armando benar-benar orang Minang. Namun dalam beberapa posting-an di media sosial, Ade mengaku sebagai orang Minang.

Sebelumnya diberitakan, Ade Armando dilaporkan ke Polda Sumbar oleh Mahkamah Adat Minangkabau dan Badan Koordinasi Kerapatan Adat Nagari (Bakor KAN) Sumbar. Ade Armando dipolisikan karena posting-annya dianggap menyinggung masyarakat Sumbar.

“(Dilaporkan terkait) ujaran kebencian di media sosial di Facebook Ade Armando. Posting-an tanggal 4 Juni yang mengatakan orang Sumatera Barat dulu lebih pintar-pintar, tapi kok sekarang lebih ‘kadrun’ lebih ‘kadrun’,” kata salah satu kuasa hukum, Boiziardi, saat dihubungi, Selasa (9/6).

“(Posting-an) itu mencederai orang Minang, menimbulkan keonaran dan keresahan di masyarakat. Makanya mereka melaporkan itu dan tidak terima pernyataan dari Ade Armando,” tambahnya.

Terkait pelaporan tersebut, Ade tidak ambil pusing. Ade merasa aneh Injil berbahasa Minang dilarang. Menurutnya, Injil bukan kitab maksiat. Dia menekankan tidak menyebarkan ujaran kebencian, melainkan mengecam pelarangan Injil.

“Buat saya nggak masalah dipolisikan. Memang salah saya apa?” kata Ade, Selasa (8/6).

“Saya bilang masyarakat Minang kok terkesan terbelakang karena melarang aplikasi Injil berbahasa Minang. Memang Injil itu kitab maksiat? Memang masyarakat Minang mengharamkan Kristen? Injil berbahasa Arab saja ada, kok Injil berbahasa Minang dilarang. Itu yang saya sebut terbelakang,” ujar Ade.

Ade juga menganggap pelaporan ke pihak kepolisian tidak mewakili penuh masyarakat Sumbar. “Kan yang melapor bukan masyarakat. Siapa yang kasih mereka hak mewakili Sumbar?” ujarnya.***

 

Sumber: Detik

By redaksi

Tinggalkan Komentar